Jakarta, januari 2016
2010. 2011. 2012. 2013. 2014. 2015. 2016
Deretan angka itu mempunyai banyak cerita didalamnya.
Susahnya menyusun kalimat.
Jakarta, januari 2016
2010. 2011. 2012. 2013. 2014. 2015. 2016
Deretan angka itu mempunyai banyak cerita didalamnya.
Susahnya menyusun kalimat.
Jauh sebelum disini, aku pernah pergi pada hati tak beralamat. Seseorang yang entah hatinya untuk siapa, dan dimana. Karena kepemilikan hati yang penuh misteri aku sering datang pada bulan dan bintang, menatapnya mengajaknya bicara dengan harapan pemilik hati itu mendengar kemudian akan datang padaku.
Dekat. Aku dan malam bersama bulan dan bintang.
Malam ini aku melihat bulan bintang yang sama seperti beberapa tahun silam seperti waktu itu.
Bulan bintang yang tak lagi ku jumpai dibeberapa tahun ini. Seolah ia kembali menyapa, menagih semua cerita tentangku untuknya.
Kenapa dia datang lagi. Mungkin dia tahu aku hari ini sama seperti aku waktu itu.
Bulan, bintang , angin dan malam.... Aku begitu dekat dengan kalian sekarang. Bukan karena aku mencari pemilik hati, aku sedang di uji hati, untuk bersabar.
Sepertinya aku merindukan seseorang malam ini.
Jangan rindukan aku bulan dan bintang. Aku tak ingin terpojok seperti yang sudah sudah. Terjebak dalam sepi dan mimpi.
Aku dan dirinya diriku.
Cinta adalah sebuah rasa dan asa.
Apa jadinya ketika rasa dan asa tiada?
"Yaah gitu deh, kalo sama pasangan ga pernah mau di ajak sekedar ngobrol, mba. Ga tau kenapa gw nyaman sama orang ini, kita udah jalan 2 th. Tp sekedar chatting aja belum pernah ketemua." Demikian Cerita teman membuat sebuah pengakuan.
"Kalo lagi ada "mau" nya aja dia deket2, kalo lagi ga pengen ya jauh2. Padahal kan perempuan itu butuh dimanja, diperhatiin, disayang, kalo sekarang kan enak. Kalo laagi bete ada yg nenangin. Ada yg bisa bikin hati berdetak lagi, setidaknya." Lanjutnya.
Padahal suami pun sebenarnya sama, mereka butuh dimanja, disayang di perhatikan seperti perempuan. Hanya saja mungkin, yaaa mungkin prioritas utama sekaramg kerja kerja dan kerja.
Ah kenapa begitu? Suamiku mana suamiku....
Pernahkah bayangkan kalo pasangan kita ternyata hatinya ntah ada sama siapa diluar sana???
Ahhh susah memang menjaga hati.
Hatiku... Dimana hatiku... #eh!!!
Hidup itu keras kata anak jalanan.
Hidup itu indah kata orang kasmaran.
Hidup itu menyebalkan kata orang yang sedang susah. Hidup itu menyedihkan, kata orang kesepian.
Hidup itu coklat kata remaja.
Hidup itu banyaknya makan garam, kata orang tua.
Hidup itu dateline
Hidup itu .....
Di titik koordinat ini aku merasa pelangi sudah tidak lagi bermacam warna. Kini pelangi hanya ada dua warna, entah warna yang mana yg tersisa.
Di titik katulistiwa ini ada rasa bengah. Satu keadaan memporak porandakan mimpi yang kemudian membatasinya dengan sebuah garis bentangan yang amat sangat panjang dan terjal. Memaksa malam, menelanjangi subuh, hingga mentari hilang senyum dan pesona pada matahari.
Smua itu jeda, tawa riang anak anak manja, rengek tangis mereka hanya pengisi kosongnya suasana. Im stuck on here, without possion.
Huuuuffff i wish someone here. Hear me,
Its uneasy to go.
Entah sudah berapa lama tangan ini tak lagi mencoba menulis atau sekedar curcol bahkan mungkin bisa dikatakan semacam memintanpengakuan lebih bahwa saya adalah orang yang suka menulis. Yesss!!!!
Suka atau tidak lanjutkan nulis yaa :$igh
Dulu ketika saya masih gadis paling suka dan sangat usil untuk komentar tentang something yang menurut mata setengah bulat saya aneh. Aneh yang dimaksud dalam kacamata kuda saya loh yaaa....
Perempuan bekerja, rapi, sedikit modis, wangi, dan "agak" jutek.
Itulah saya dulu, jadi saya akan selalu dan pasti tak pernah habis pikir apabila melihat perempuan yang lalulalang dengan lemak nimbun dimana2, jempol kaki hitam dengan nuansa bersisik kering pertanda tak pernah tersentuh lotion. Wajah menebal dengan ditaburibplek hitam disana sini, bibir membiru pecah kering, rambut beterbangan online kemana2 dan (maaf) kusut acak acakan serta pakean setengah pudar warnanya, dan keteknya bau itu yang pernah ku jumpai saat naik angkot waktu itu. Kemudian mencernalah otak dengan sebuah pertanyaaan, beginikah realita "Life After Married?" Seperti apakah suaminya yng tega merenggut dan membiarkan aura kewanitaannya hilang? Betahkah suaminya duduk berlama2 seperti saat awal2 pernikahan?
Pertanyaan itu selalu menghantuiku ketika dihadapkan dengan kondisi wanita cantik yang berubah jadi Superhero.
Mengenaskan.
Pernah satu masa seorang teman baru punya 1 anak bilang, "kok sepertinya aku tidak secantik dulu ya...." Saya tahu itu suara hatinya yang dibungkus dalam bentuk canda.
Kemudian seorang teman satunya lagi menjawab, " Ga apalah udah laku ini pun."
Jlebbbbbb mendengar pernyataan itu telinga ini rasanya aneh. Kok bisa ya mereka melahirkan jawaban yg menurut saya tidak bertanggungjawab bahkan pada dirinya sendiri. Nangis dalam hati waktu itu mendengarnya. Nggak rela!!!!!
Bertahun2 kemudian, tibalah masa dimana saya menjadi seorang perempuan berstatus istri yang selalu dirumah punya suami serta seorang anak. :-)
Mungkin ada yang bertanya bagaimana kondisi saya sekarang? Apakah sama dengan nasib perempuan hero yang ditemuinya dalam angkot ketika masih gadis dulu?
Yang pasti menjadi perempuan itu entah masih gadis belum laku ataupun emak2 yang udah laku abadikanlah kecantikan itu at least supaya diri sendiri bangga suami juga senang melihatnya. Alih2 lbh cantik dari masa sebelum merried, bonus double kan?
Usia bukan tolok ukur untuk menjadi cantik rapi dan wangi, apalagi gelar emak2 bau bawang hiks.... Jangan deh.
Btw, cantik itu butuh modal lady's :-)
Kadang saya juga sempet ga rela ketika jalan dengan saudara perempuan saya, kmudian dibilang yang bahwa saya kakaknya. Nangis guling guling sampe rumah.
Dalam hati mungkin diri ini memang benar telah berubah menjdi perempuan superhero seperti perempuan dalam angkot itu.
Benarkah ini jawaban life after merried?
Nyatanya itu tidak terjadi pada saudara perempuanku. Dia tetep wangi bahkan lebih cantik dari sebelum menikah.
Women.Life.Beauty.Family
How 'bout you lady's?
:-) :-) :-) :-) :-) :-) peace
Langit tanpa bintang itu gelap gulita, tapi muka penuh benjolan itu lebih gelap dibanding langit yang paling gulita.
It's my quotes. Entah kapan semua bermula anugrah tak terindah ini muncul. Pelan tapi pasti boooook...
Awalnya sehabis lebaran idulfitri masih 1, 2 dan kecil banget. Lalu tumbuh hilang tumbuhlagi begitu seterusnya hingga sampelah pada penghujung acara.. *halah.
Awal january mpe sekarang obat dari dokter belum ada reaksi. Hiks hiks.... Tuhan tolonglah aku...
Jerawat you drive my mood so bad!
Pergi ya... dan jangan kembali, plis deh.
Perkiraan cuaca hari ini :
Sepertinya mendung memang lebih asyik menggelayut mesra meski hujan sempat membasahi bumi.
Dingin pilunya hari ini berharap ada pelangi, atau setidaknya hangat akan senyum mentari kala pagi hari.
Tak ada yang berubah selain perubahan itu sendiri. berulangkali kalimat ini indah terdengar hingga mengganggu alam bawah sadarku, ingin rasanya ku banting kemudian aku jejali barisan kalimat itu dengan sumpah serapahku hingga tak lagi terujud menjadi sebuah tamparan.
Tertampar... perih, lebih perih dari melayangnya tangan panas manusia yang sesungguhnya. Serasa semua tak lagi menjadi sama. Terpojokkan hingga tak lagi layak mendapat sebuah nilai apalagi harga.
Hargailah...!
Apanya?
Mendung akan tetap abu-abu karena mendung tak pernah menjadi hijau seperti daun.
Nampaknya cuaca hari ini akan tetap seperti ini.
Setiap orang mendambakan sesuatu yang bernama BAHAGIA, entah setuju atau tidak kalimat itu seolah begitu mudah penyampaian dan serasa mudah pula penggapaiannya. De' fakto?
Bahagia itu bukan tidak mungkin, hanya saja tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Kadang aku merasa heran Tiap kali pandangi anak lelakiku yang sedang tertawa menari dengan riang, aku merasakan sesuatu yang lain, ada satu euphoria yang membuncah,suatu kebanggaan, harapan dan seolah ada sesuatu yang sedang memberikan jempol kearahku. Mungkin inilah sesuatu yang namanya Bahagia.
Semudah itukah pencapaiannya?
Lalu kenapa kalau hanya dengan sesuatu yang tanpa kita sadari kita bisa bahagia, tapi masih berkeluh dengan pertanyaan "bahagia dimana engkau berada?"
Buka hati, buka telinga, tutup mata kita... disitu tuba tiba bahagia datang mengitari kita, see... it's so easy, kan?
Muter muter, jungkir balik, larilari, loncat, teriak, nyanyi. Nyanyi ga jelas, serta mimik pura pura semua udah si ganteng tunjukin. Seneng ya rasanya liat polah sikecil yang udah beranjak menjadi todler.
Waswas, dan spot jantung itulah yang tiap hadiahin ke mamanya.
Happy 17Mos ganteng. Sehat sholeh ceria selalu ya...