Showing posts with label keuangan. Show all posts
Showing posts with label keuangan. Show all posts

Wednesday, September 5, 2012

Tentang Freelance dan Berbisnis Kecil



Berikut ini merupakan kumpulan tweet #FinClic 6 Agustus 2012 ( Setelah saya "cut" seperlunya tanpa mengurangi inti habisnya puanjang bangeeeeeeeet )

Yes #FinClic hari ini berhubungan dengan freelancer!



Pengalaman gw yah, disuruh berhenti kerja sama @dondihananto tahun 2002 supaya ngurus anak jadi ibu rumah tangga #FinClic

Biasa punya duit sendiri. Tau- tau harus nunggu dari suami. Aneh banget rasanya. Mana waktu itu baru punya bayi. Wah perasaan serba kacau #FinClic

Jadi kalau lo berhenti kerja, untuk jadi freelancer atau punya bisnis kecil, hal ke- satu yang lo siapin : mental. Turunin semua standar sekarang juga! #FinClic

Freelancer / small bizowner jarang yang langsung menghasilkan besar. Jadi stop kasih bunga- bunga ke 2 pekerjaan itu! Gak ada duit! Siap gak? #FinClic

Waktu itu, gw jadi ibu rumah tangga, lalu kuliah S2, lalu part time jadi dosen, baru bikin cikal bakal @QM_Financial . Makan dari mana? #FinClic

Waktu itu @dondihananto kerja di bank asing. Walaupun gw freelancer/ small business owner, penghasilan dan fasilitas kesehatan aman #FinClic

Setelah bertahun- tahun bangun bisnis gw, giliran @dondihananto yang mau berhenti kerja, jadi freelancer + small business owner. Dia gak keluar begitu aja #FinClic

The day @dondihananto said to me “I want to quit my job”, I was very surprised. Dan ada “takut” juga, ntar cukup gak buat hidup #FinClic

Me and @dondihananto sat down and worked on our finances for days before he resigned. Dengan dua anak, tidak bisa asal nekad aja lho #FinClic

Jadi buat teman- teman gw yang sekarang lagi slayar sluyur ceritanya baru freelancer/ small business owner, jangan bangga dulu. Emang udah siap? #FinClic

Berikut hal- hal penting sebelum Quit:
1) Asuransi Kesehatan
2) Dana Darurat
3) Aset Aktif yang SUDAH menghasilkan
4) ehem belajar hemat :p #FinClic

Orang yang dari dulu udah kerja freelance, sudah hati- hati dan siap dengan segala konsekuensinya. Yang dari karyawan ke freelancer ini yang suka gak ngeh #FinClic

Kantor gw udah ada AsKes untuk keluarga, penghasilan gw udah stabil, ada bisnis+apartemen yang menghasilkan, baru @dondihananto Quit #FinClic

Topik ini gw pilih karena gw mulai cemas. Banyak yang sibuk ngomongin passion, action, tanpa duit terus masa nekad doang? Gak gitu lah! #FinClic

Prinsip Tahu Diri. Semua juga tahu. Tapi apa mau jalanin-nya? Jadi karyawan dengan gaji tetap harus beda ngurusnya dengan freelancer/ small business owner #FinClic

Kalau lo udah berkeluarga, atas nama passion lo loncat jadi freelancer/ small business owner tanpa persiapan keuangan, lo gak bertanggungjawab! #FinClic

Gw contohin teman yang udah dari sana-nya freelancer ya? Dia bilang dia punya AsKes, kalau kerja gak kenal waktu, Dana Darurat 12x biaya hidup. Gokil! #FinClic

Gw mengisi acara seminar “Menabung Saja Tidak Cukup” dulu ya. Nanti siang disambung lagi #FinClic

Melanjutkan #FinClic tentang freelancer dan small business owner. Udah di level apa? Kalau memang dari dulu pekerjaannya itu, biasanya udah tau diri #FinClic

Yang repot kalau tadi-nya karyawan, switch ke freelancer/ small business owner. Suka ada yang gak ukur kemampuan padahal udah beda lho #FinClic

Pursuing passion feels soooo awesome. Only if you know the right tools. Your finance should be in place from the beginning #FinClic

Thanks! RT @Aditkok : Suka sekali sama topik #FinClic Hari ini, dibanyakin lagi dong tips financial buat small biz owner Tipe pekerjaan freelance bisa macam- macam. Ada yang jadi dosen part time, pelayan resto sampe konsultan dipanggil sewaktu- waktu. Gak gajian rutin #FinClic

Freelancer ada yg kerja berdasar kontrak tahunan, per project, sampe per berapa jam dia kerja. Jadi penghasilan gak rutin #FinClic

Efek yang paling kelihatan, waktu urus Pengeluaran. Karyawan gw suruh nabung 10-30%. Freelancer gak bisa diurus dengan cara ini #FinClic

Freelancer harus punya pengeluaran yang jelas. Misal 5juta/ bulan. Jadi penghasilan gak jelas, asal tahu, pengeluaran bisa diatur #FinClic

Kalau pengeluaran 5juta, penghasilan freelancer mungkin 2juta bulan ini, 10juta bulan depan, 0 bulan berikut dan 20juta bulan depan-nya? #FinClic

Nah freelancer perlu Dana “biaya hidup”, minimal 3xpengeluaran. Makan dari sini. Penghasilan lagi banyak, setor untuk hidup bulan depan #FinClic

Misal penghasilan bulan ini 8juta » 5juta untuk makan, 1juta ke Dana Biaya Hidup, 2juta lagi rekening terpisah untuk Investasi #FinClic


Waktu penghasilan sedang 20juta, makan 5juta, 1juta ke Dana Biaya Hidup, 14juta ke rekening Investasi terpisah #FinClic

Jadi Investasi bulanan tetap ada hitungannya, tapi setoran ke rekening investasi bulan ini mungkin untuk beberapa kali investasi #FinClic

Investasi bulanan akan debit rutin dari rekening Investasi. Karena pekerjaan freelance, setorannya yang beda dengan karyawan #FinClic

Sama, mirip freelancer. Gw sebut Self Employed RT @dadingwicaksono : nah kalo yg pemasukannya ga tetep macam dokter gitu gimana mbak? #FinClic

Gw ingin bisa ikut tepuk tangan waktu orang tinggalin pekerjaan yang dia gak suka, demi passion-nya. Tapi kalau habis itu lo melarat? #FinClic

Jadi ayo lah, finance itu bisa diukur semua. Urusan mampu bisa diupayakan. Empowering yourself. This is what it’s all about #FinClic

Duar! RT @ReneCC : Sepakat sama @mrshananto - keluar dari pekerjaan butuh persiapan matang. Jangan sebut passion kalau ternyata pride
Sekarang untuk small biz owner. Ini bisa lebih kusut lagi daripada freelancer. Freelancer kerja sendiri. Small Biz Owner ada buntut karyawan #FinClic

Demi bisa idealis, atas nama passion, keluar dari kerjaan karyawan, bikin bisnis. Income stream bisnisnya dari mana? #FinClic

Banyaaak sekali pemilik bisnis kecil itu gak langsung “panen”. Ngerasain susah dulu. Hidup dengan gaji seadanya dulu. Konsekuensi memang begitu #FinClic

Ngeri gw kalau denger, bikin bisnis langsung pengen gajian 15juta. Lah income stream bisnis-nya gak ada, dari mana gajian segitu? #FinClic

Jadi kalau ada ceritanya start up, direktur-nya geruk gaji gede, siap- siap aja lagi tenggelam tuh kapalnya. Berat banget pasti #FinClic

Bisnis yang gak bisa menggaji pemilik yang kerja di dalam-nya juga gak sehat. Tapi reasonable aja lah. Omset berapa, gaji owner berapa #FinClic

Udah yakin sama keputusan hidupnya. Ayo sekarang ukur kemampuannya. Karena emosi VS angka gak bisa ditabrakin. Angka ga bohong #FinClic

Gw banyak ketemu small biz owner. Ada yang memang buta sama sekali soal akuntansi. Ada yang bahkan gak tau yang dijual apa. Ada yang semangat beres- beres #FinClic

Apapun level bisnis lo sekarang, keuangan keluarga lo apa kabar? Masih single bisa pulang ke rumah orangtua. Tapi yang udah punya anak? #FinClic

Gong-nya gw pun ketemu pemilik bisnis yang dengan alasan “bisnis lagi susah” gak kasih nafkah sama keluarganya. Mau berapa tahun kayak gini? #FinClic

Hal- hal sederhana seperti: keuangan bisnis dan pribadi dipisahkan, ada laporan keuangan walaupun sederhana cash basis dan tau mana fixed vs variable cost #FinClic

SmallBizOwner. Gak gajian dulu? Berapa lama? Pasang target yuk? Maksimal 3 tahun. Selama 3 tahun itu makan dari gaji pasangan + dana darurat #FinClic

Gw dari tahun 2003, baru gajian rutin tahun 2007. Sebelumnya pake sistem persentase. Bisa sekecil 350.000 / bulan untuk memastikan bisnisnya profit #FinClic

Sekarang pun, untuk jaga fixed cost rendah, gajian di kantor gw ada gaji pokok+tunjangan, ada variable bonus bulanan. Tergantung project #FinClic

Hi3 kayaknya banyak yang tercekat tentang “gak gajian 3 tahun” ya? :p ya gitu deh. SmallBizOwner gak selalu keren #FinClic

Ulang yang tadi pagi » hal- hal penting sebelum berhenti kerja tetap (Quit): 1) AsKes 2) Dana Darurat 3) Aset Aktif yang SUDAH menghasilkan 4) ehem belajar hemat :p #FinClic

Sebelum Quit: 1) Asuransi Kesehatan. Suami gw dulu kerja di Bank. Waktu dia berhenti kerja dan mulai bisnisnya, kantor gw udah ada Asuransi Kesehatan #FinClic

Sebelum Quit: 2) Dana Darurat (DD). termasuk badung sih, DD keluarga kami untuk 3 bulan aja, harusnya 12 bulan. Tapi ada #FinClic

Sebelum Quit: 3) Aset Aktif yang SUDAH menghasilkan. QM sudah bisa bagi dividen. Ada resto di Bandung hasil bulanan. + apartemen disewain #FinClic

Sebelum Quit: 4) ehem belajar hemat :p ini yang paling susah sih. Waktu suami gw di Bank liburan asiiiik banget. Sekarang direm he3 #FinClic

Nah. Mana semua yang karyawan mau jadi freelancer/smallbizowner. It’s your life! Don’t let other people turn you into quitting your job #FinClic

Bisa ya dibayangkan kelojotannya kayak apa kalau tadinya karyawan gaji 30juta, sekarang atas nama passion bikin bisnis, eh gak gajian. Siap- siap! #FinClic

  Bikin bisnis harus mau kejebur. Tapi kalau gak bersiap ntar gak makan. Find that balance and face the reality #FinClic

Bikin bisnis dengan modal dengkul, ilmu kepepet atau apalah. Kalau untung digembar gembor. Yang hancur berantakan, nasibnya gimana? #FinClic

Kenyataannya, bikin bisnis itu banyak yang hancur dulu. Ya musti dihadapi. Gw bikin 14bisnis, yang mati 10. Calculated risk#FinClic
Gw gak bisa ngetwit sekadar memotivasi karena gw ketemu kasus- kasus macam- macam dan gak mau orang- orang dijerumuskan sembarangan #FinClic

Copas dari qmfinancial.com



 

Wednesday, February 8, 2012

Dapend vs Aspend

Dari kapan itu aku mantengin timelinenya para finplan di twitterland dooooh kepala jadi cenat cenut, perut mules panas dingin ga enak makan ga enak tidur kayak orang jatuh cinta aja ya huehuehuehue...

Penasaran apa yang para pakar omongin? itu loh ttg ga enaknya invest unitlink, serta ga cukupnya asuransi pendidikan untuk biaya sekolah anak2 kita nantinya. ngeri banget kan?

solusinya?

Setelah ku baca2 biaya pendidikan anakitu mahal loh sangat mahal, tus apa iya anaknya ga mau di sekolahin.... enggak kan...??
lihat angka2nya aja udah @@ apalagi bener2 pas ngitungnya. but it'll ok kalo kita plan dari sekarang, jangan tunggu besok mau masuk kuliah sekarang baru bingung nyari dana dr mana. warisan kaliii eit warisan aja nunggu proses loh :D

Gimana bikin plannya? pertama yaaa kita search sekolahan mana yg kita tuju, negeri, swasta, international ato nationalplus. baru kemudian kita lihat di web sekolah tsb berapa biayanya, ato nelpon ato tanya lansung. kemudian mulai dehtung itang itung...

ini dia cuplikannya yg udah aku abadikan dr twitternya mba ligwinan hananto @mrshananto.

semua kembali pada Tujuan lo apa, investasi apa paling baik? mending invest skrg atau nanti , perlu berapa untuk invest dll.

berikut mengenai aspend =Asuransi Pendidikan

Ternyata AsPend ini cuma jualan marketing perusahaan asuransi aja . There' s no such thing ! Sbtlnya ini AsJiwa jenis Endowment.
Kenapa namanya AsPend? Emang Pendidikan bisa diasuransiin ? Emang asuransi itu apa? Yak ternyata kita mau beli apapun berjudul "pendidikan"
Asuransi perlu untuk melindungi. Prinsip Asuransi » jk terjd suatu hal yg mengakibatkan kehilangan finansial, perusahaan asuransi bantu # FinClic

contoh. Anak 1 thn , S1 skrg 60jt » 18th yang akan datang 645 jt . Bs dicapai dg Rp 200 rb/bln produk target 25 % /thn spt RD Saham . AsJi beda lg # FinClic

Wkt kita sbg ortu sdg investasi sekian ratus ribu / juta per bln u DaPend PG -S 1 , ada risiko misalnya meninggal dunia. AsJi berperan #FinClic

knp kl bicara DaPend , gw tidak bisa merekomendasikan AsPend ( AsJi Endowment ). Angkanya gak nyambung semua # FinClic

Penting. Kl ada yg blg AsPend cocok, tanya angkanya, dia pake u anaknya sekolah gak, krg berapa byk ;) apa jgn2 blm punya anak ?

penawaran AsPend gencar. Jaman dulu bentuk AsJi Endowment : AsJi yg thn kesekian keluar duit untuk uang sekolah. Skrg bentuknya Unitlink.
Dan unitlink pun sebenarnya ga bisa nutup untuk dapend, karena angkanya gak
ketemu . Unitlink ini gak efisien.
Tabungan, Asuransi , Unitlink, Reksadana » ini semua cuma produk . Dana Pendidikan itu Tujuan Finansial. Jd itung dulu baru cari produk.
Ibarat nanya "gmn caranya ke Bandung ?" Jwbnya apa? Byk ! Bisa naik travel , naik kereta, nyetir sendiri , lwt Puncak atau Cipularang. Sblm pilih jalan ( Produk ) ke Bandung (DaPend ), cek dl skrg ada di mana (KondisiAwal ) » ada di Lembang ? Ngapain ke Jkt uuntuk naik kereta. Setiap klien akan punya Kondisi Awal yg beda beda. Struktur rejeki ( gajian, bonus gede , dividen bisnis, atau apa?) &pengeluaran beda.
mari berhitung! dengan demikian kita akan tahu posisi awal kita dimana dan maunya kemana?enggak asal ikut arus dan pengaruh tawaran ina inu.

mrshananto, "Bokap gw bisa sekolahin 2 anak ke luar negeri tidak dg beli Reksadana . Jaman dl gak ada. Tp bokap nabung 90 % dr gaji. Nah gw gak bs. Jd kl mau nabung aja bisa kok siapin DaPend. Tp pertanyaan berikutnya, emg bisa nabung brp ? Lawannya inflasi 20% per thn."

Contoh. Anak 1 thn , biaya kuliah sampai S1 sekarang adalah kurleb 60jt. naaah 17 thn yang akan datang udah 645 jt. Semua itu bisa dicapai dg: nabung 3jt /bln atau investasi Rp 200 rb/bln target ret 25% per thn. silahkan pilih sendiri.

Kalau gaji /bln 10 jt aja, 3jt /bln nabung untuk anak S1, terus PG, TK, SD, SMP, SMU nya pake apa? lalu yang gaji 2jt/bulan? ga sekolah dong anaknya, gitu? makanya invest !! invest !!!
Btw, yang gaji 50 jt target S1 anaknya gak 645 jt loh ya, bisa jadi sampai 5 M hehehehe...

Contoh investasi target ret 25% per thn itu untuk RD Saham . Baru target ret ya, gak pasti. Kalau mau pasti ya nabung, tp target ret 0 % per thn.
pertanyaan tersering adalah bagaimana kalao target ret pertahun dari RDS nya ga tercapai? jawabnya, anda boleh nabung jumlah yg gede segedhe gedenya kalo emang dananya gedhe dan takut resiko. kalo ga sanggup nabung gedhe?

Jadi untuk Dana Pendidikan yg hrs dikerjakan sbb :
1) survey sekolah dl. Spy ngerti filosofi sekolah spt apa. Angka kemudian.
2) DaPend isinya byk . Dari Uang Pangkal, SPP blnan, ekskul , field trip , les , blm uang saku. Dlm Plan hanya itung UangPangkal.
3) Pikirin continuity. Kl maksain anak PG di skolah mahal terus gak mampu u TK, SD, kasian anaknya lho . Makanya di-Plan.
4) Perhatikan inflasi, 10- 20% per thn . Tiap sekolah beda 2 . dan seorang finPlan bisa tunjukin data bbrp sek
5) Plan DaPend: u PG- SMA UangPangkal aja, SPPdianggap dari gaji bulanan ortu. S 1 sepaket sampe lulus + biaya hidup LN*kalo sekolah di Ln

Well, kita sering denger anggapan "Nanti jg tiap anak ada rejekinya !" Gimana kalo rejeki anak itu sbtulnya ada di gaji kita hari ini ? so, Udh dikasih rejekinya ya hrs diurus.

Menurut pengalaman mba wina dalam TLnya, dia sempet tutup AsPend
krn gak nyambung dg tujuan DaPend. Penggantinya : AsJi murni +
Reksadana.kenapa di tutup itu karena aspend ngeluarin dananya ga sebesar yg diharapkan alias merugi, so dia menutup aspendnya dan ilanglah duit 24jt. pikirnya drpada anak gue ga sekolah!

Jd teorinya dlm Plan, investasi di Reksadana u Dana Pendidikan itu bs dg Tab, Depo dan RD (PU , PDT, Camp, Shm) . Tergantung jangka waktu, jadi kalo misal kurang 2-3 thnlagi anak masuk sekolah boleh lah simpan di tabungan ato deposito.

Knp Tab/ Depo ? Asumsi target ret 0 %/thn . Knp RD ? Asumsi target ret 7%, 10%,15 %25%/thn . Data mudah didapat. Trendkeliatan.

kenape tdk Emas ? Emas jg bs. Tp masalahnya data 30thn terakhir gak konsisten. Emas 1970tinggi , turun slama 20thn baru naik lagi.








Au ah pusiang ni pala :P @@

Wednesday, February 16, 2011

List Perlengkapan Baby

Kebutuhan Utama Bayi ;
;Pakaian
  •  [½ lusin] stelan baju tangan panjang + celana panjang
  • [1lusin] atasan lengan pendek
  •  [1lusin] atasan tanpa lengan
  • [1½ lusin] celana pop/celana pendek
  • [2-3] jumper/baju monyet 
  • [2-3] celana tutup kaki
  • [4-6 pasang] sarung kaki + sarung tangan 
  • [1-2 buah] kaos kaki/sepatu bayi
  • [1] cardigan/jaket/baju hangat 
  • [1] topi bayi
  •  [½ lusin] singlet 
  • [2 lusin] popok kain 
  • [½ lusin] gurita 
  • [1- 1½ lusin] bedong 
  • [2-3 buah] alas dada/oto (bib) 
  • [½ lusin] sapu tangan handuk
Perlengkapan Mandi & Ganti Pakaian
 bak mandi
 penyangga/kursi mandi **optional
 perlak mandi untuk alas ganti pakaian
 [2 buah] handuk bayi besar
 [3-4 buah] washlap/sarung tangan handuk
 sabun mandi
 shampoo ***bisa menggunakan yang two in one dengan sabun
 baby lotion/baby cream
 baby oil
 baby cologne
 diapers cream
 bedak+tempatnya
 minyak telon
 lotion anti nyamuk
 wet tissue
 cotton buds
 sisir+sikat bayi
 gunting kuku bayi
 1 pack newborn pampers
 kapas bulat ***kalau mau irit beli kapas kiloan di apotik lalu bentuk bulat-bulat, simpan di toples

Perlengkapan Tidur
 box/crib/tempat tidur bayi
 kasur ***sebaiknya baru
 [2 pasang] bantal guling
 Seprai, bumper/pengaman
 bantal peang (ada lekukan di bagian kepala)
 selimut bayi
 [1 buah] perlak besar
 [2 buah] perlak kecil

Perlengkapan Minum & Makan
 botol susu + dot )***beli 2-3 botol ukuran kecil, lainnya bisa dibeli setelah bayi lahir
 sterilizer/panci untuk merebus botol ***pilih salah satu
 penjepit untuk mengambil dot & botol
 sabun + sikat cuci botol
 box untuk menyimpan botol
 milk powder container
 bottle warmer **optional & bisa dipinjam

Kebutuhan Tambahan
 thermometer
 sedotan ingus (nose cleaner)
 kassa
 alcohol 70%
 betadine
 tas bayi **optional
 baby bouncer (kursi santai bayi) **udah ada

Kebutuhan Travelling
 stroller/kereta bayi
 gendongan bayi (sling)

Kebutuhan Ibu
 [3 buah] BH menyusui
 breast pads
 gurita ibu
 breast pump (pemompa asi) **optional




Dapat contekan list perlengkapan baby tapi udah ku edit sesuai yang kami butuhkan, masih bingung jua apalagi ya yg kurang... nyusul aja ah, yang penting dah ada list nya...

Tuesday, November 9, 2010

Perkiraan Biaya Pendidikan ANak

Menghitung Perkiraan Biaya Pendidikan


oleh: Safir Senduk



Dikutip dari Tabloid NOVA No. 756/XIV



Ketika beberapa hari lalu saya berbicara di sebuah seminar di Surabaya, saya kaget ketika seorang peserta seminar bercerita tentang mahalnya biaya masuk kuliah dari sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Jumlahnya tidak usah saya ceritakan berapa, tapi yang jelas sangat mahal. Padahal, itu baru uang masuknya doang.



Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa yang namanya Biaya Pendidikan harus dipersiapkan sejak sekarang. Betul, memang tidak semua Biaya Pendidikan itu mahal. Bervariasinya bentuk sekolah, terutama sekolah yang jenjangnya sudah cukup tinggi seperti Sekolah Tinggi, Akademi atau Universitas, membuat tidak semua standar biaya bisa sama. Jangankan pendidikan tinggi, jenjang sekolah yang lebih rendah seperti SD, SMP dan SMU saja bisa bervariasi biayanya satu sama lain. Itulah karenanya beberapa di antara Anda ada yang merasa mampu untuk membayar biaya pada Sekolah A, tetapi tidak mampu untuk membayar biaya pada Sekolah B yang harganya lebih mahal.



Namun demikian, perlu diketahui bahwa bukan berarti Sekolah A yang biayanya dinilai murah tersebut akan tetap sama murahnya pada tahun-tahun mendatang. Ini karena yang namanya Biaya Pendidikan pasti akan naik terus dari tahun ke tahun. Jadi, kalaupun sekarang ada sekolah yang biaya pendidikannya dirasa tidak mahal, tetapi karena biaya tersebut naik terus tiap tahun, jatuh-jatuhnya pasti mahal.



Saya beri contoh sederhana saja: anggap saja sekarang anak Anda berusia 3 tahun. Pertanyaannya gampang, kalau sekarang Uang Pangkal SMU adalah Rp 4 juta, dan usia rata-rata seseorang masuk SMU adalah ketika pada usia 15 tahun, apakah nantinya Anda akan membayar jumlah yang sama ketika nantinya anak Anda masuk SMU sekitar 12 tahun lagi?



Pasti beda, karena nantinya Biaya Pendidikan tersebut pasti akan jauh lebih mahal.



CARA MENGHITUNG



Lalu, bagaimana cara Anda bisa menghitung dan memperkirakan jumlah Biaya Pendidikan anak Anda kelak kalau biaya pendidikan selalu naik dari tahun ke tahun? Kan, Anda tidak tahu berapa persen jumlah kenaikannya setiap tahun?



Betul. Kita memang tidak bisa memperkirakan dengan pasti berapa jumlah Biaya Pendidikan anak kita kelak. Yang bisa kita lakukan adalah dengan menggunakan asumsi tertentu, dan berharap supaya pengandaian tersebut tidak meleset. Sebagai contoh, kita bisa menggunakan asumsi bahwa setiap tahun Biaya Pendidikan akan selalu naik sebesar 10 persen setiap tahun. Rata-rata.



Dengan demikian, kalau misalnya Uang Pangkal masuk SMU pada saat ini adalah Rp 4 juta, tahun depan bisa diperkirakan bahwa Uang Pangkal tersebut akan menjadi Rp 4.400.000,-. Darimana angka itu didapat? Gampang: Rp 4 juta + (10% x Rp 4 juta)



TINGGAL DIKALIKAN



Sebetulnya, selain cara di atas, Anda juga bisa memakai rumus: Rp 4 juta X 1,1.



Lho, kok 1,1? Dapat dari mana itu? Oh, itu sih cuma matematika sederhana. 1,1 kan sama dengan 10% di atasnya 100%. Jadi, 1,1 itu adalah bentuk desimal agar Anda lebih cepat dalam melakukan perkalian memperkirakan jumlah Biaya Pendidikan.



Tapi kalau Anda mau pakai pengandaian kenaikan Biaya Pendidikan 20% per tahun, maka Anda bisa menggunakan bentuk desimal 1,2. Kalau asumsi kenaikan Biaya Pendidikannya adalah 30% per tahun, gunakan bentuk desimal 1,3. Begitu seterusnya.



Nah, kembali ke contoh kenaikan 10% dalam satu tahun, maka apabila tahun ini Uang Pangkal masuk SMU adalah Rp 4 juta, maka tahun depan angka tersebut diperkirakan menjadi: Rp 4 juta x 1,1 = Rp 4.400.000.



Itu untuk tahun depan. Kalau untuk dua tahun ke depan bagaimana? Anda bisa melakukan perkalian tersebut diatas dengan cara mengulangnya sampai dua kali, seperti ini: Rp 4 juta x 1,1 X 1,1



Kalau untuk lima tahun ke depan bagaimana?



Ulang perkalian tersebut sampai lima kali, seperti ini: Rp 4 juta x 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1. Kalau untuk 12 tahun ke depan? Ulang sampai duabelas kali. Begitu seterusnya.



Memang, yang namanya perkiraan Biaya Pendidikan seringkali tidak bisa dihitung dengan cara yang sesederhana itu. Tapi melakukan perkiraan jelas masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Dengan adanya angka perkiraan seperti yang sudah Anda pelajari di atas tadi, maka Anda bisa lebih mudah dalam melakukan persiapan. Ibarat Anda sedang bepergian, Anda tahu dengan pasti ke mana arah yang sedang Anda tuju.



Jadi, kalau Anda ingin mempersiapkan dana pendidikan untuk anak Anda, hal yang paling penting adalah dengan melakukan perhitungan tentang berapa perkiraan jumlah Biaya Pendidikan anak Anda kelak. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi Anda untuk mengatur strategi agar siap bila tiba saatnya nanti.

[Investasi] Berkenalan Dengan Reksa Dana

Bismillah...

Beberapa minggu ini kepala dipenuhi bagaimana cara bergerak cepat melakukan investasi yang aman selain deposito di bank.

Bicara tentang Investasi gampang gampang susah gerak, kenapa tiap hari dipikir saja tanpa digerakkan, Ouh, OMDO yak...
Sebenarnya gini, saya itu bingung enak dan gampangnya itu investasi apa dan kemana? bulan lalu udah ke Bank nanya tentang macam2 bentuk investasi mulai dari tabungan rencana sampai tabungan pendidikan, tapi hasilnya ya tetep nampung jawaban dari CS aja.

Iseng2 karena hari ini saya ijin ga masuk kerja, maka saya luangkan waktu sebentar mencari tau apa itu REKSA DANA.

Hmm udah ga asing lagi bagi para investor pengalaman kali ya... tapi saya masih penasaran sekali loh, udah nyoba tanya2 ke perencana keuangan mulai dari ngikutin tweetsnya atau tips2 jitu mereka tetep aja yang namanya penasaran kalau ga dicoba tetep ga komplit.

SO, kapan mulainya ya.......  Pengin segera sih @@



Kalau mau kenalan dengan reksa dana baca aja ya........


Dikutip dari Tabloid NOVA No. 666/XIII
oleh : Safir senduk


Pada edisi yang lalu kita telah berbicara sekilas mengenai apa itu saham. Sekarang, saya akan mengajak Anda berkenalan dengan apa yang namanya Reksa Dana. Dalam Bahasa Inggris, Reksa Dana dikenal dengan nama mutual fund.



Reksa Dana adalah sebuah bentuk investasi yang dilakukan secara kolektif (bersama-sama), dan investasi ini dikelola oleh sebuah perusahaan manajemen investasi. Perusahaan manajemen investasi adalah perusahaan yang kerjanya mengelola investasi nasabahnya.



Sebagai contoh, ada investor A, B, C, D, dan E masing-masing memiliki uang berbeda-beda dan memutuskan untuk melakukan investasi secara bersama-sama. Di sini, mereka bisa menggabungkan semua uang yang mereka miliki untuk diserahkan pengelolaan investasinya pada sebuah perusahaan manajemen investasi.



Nantinya, apabila investasi itu memberikan keuntungan, katakan sebesar 15% dalam setahun, maka masing-masing dari investor tersebut akan mendapatkan keuntungan yang besarnya sesuai dengan proporsi jumlah yang mereka investasikan. Tapi bila investasi itu merugi, tentu saja masing-masing dari mereka juga akan merugi sesuai dengan proporsi jumlah yang mereka investasikan tadi.



Nah, bentuk investasi yang dilakukan secara kolektif (bersama) di mana pengelolaan investasinya diserahkan kepada sebuah perusahaan manajemen investasi inilah yang disebut dengan nama investasi Reksa Dana. Perusahaan Manajemen Investasi (selanjutnya kita sebut saja Manajer Investasi) inilah yang lalu akan melakukan investasi ke berbagai macam produk investasi seperti saham, deposito, surat utang, dan lain sebagainya. Reksa Dana sebetulnya merupakan cara yang baik untuk melakukan investasi, karena investasi Anda dikelola oleh tim pengelola investasi yang memang cakap dan (biasanya) berpengalaman.



Bagaimana Cara Kerja Reksa Dana?



Dalam prakteknya, Manajer investasi tidak menunggu investor untuk memasukkan uang lebih dulu sebelum mereka membeli produk investasi, tapi dibalik. Mereka beli dulu produk-produk investasinya, baru kemudian investasi itu dijajakan kepada investor.



Bagaimana caranya? Oke, pertama-tama, manajer investasi (yang menerbitkan Reksa Dana) akan mengundang sejumlah pihak untuk menjadi sponsor/promotor (penyandang dana). Dari sponsor inilah akan didapat dana yang cukup besar, yang akan dialokasikan ke sejumlah produk investasi.



Untuk contoh, kita misalkan saja total dana yang didapat dari sponsor adalah Rp 1 triliun. Dana sebesar itu, oleh Perusahaan Reksa Dana (melalui tim pengelola investasi-nya) akan dibelikan sejumlah investasi, seperti dibelikan sejumlah deposito di berbagai bank, dengan jangka waktu satu bulan. Contoh seperti Tabel 1.



Setelah itu, Perusahaan Reksa Dana akan membagi investasi tersebut ke dalam pecahan-pecahan kecil, yang disebut dengan nama Unit Penyertaan (UP), dimana masing-masing UP akan bernilai Rp 1.000. Sehingga dari total investasi senilai Rp 1 triliun seperti dicontohkan diatas akan didapat UP sebanyak Rp 1 triliun : Rp 1.000 = 1 miliar UP.



Nah, UP inilah yang akan diterbitkan dan dijual ke masyarakat. Dengan demikian, investasi yang dilakukan oleh investor adalah dengan cara membeli UP itu. Untuk menyeragamkan, maka UP Reksa Dana pada awalnya selalu dijual dengan harga awal Rp 1.000. Dalam hal ini, harga atau nilai UP tersebut disebut juga dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB).



Jumlah UP yang dibeli investor berbeda-beda, ada yang hanya membeli 100 UP, tetapi ada juga yang membeli 1.000, 5.000, atau bahkan 10.000 UP. Semua itu tergantung dana masing-masing investor. Selain itu, investor juga harus membayar komisi untuk Perusahaan Reksa Dana, yang biasanya maksimal sekitar 0,75% sampai dengan 3% dari total investasi Anda. Sebagai contoh, bila Anda membeli 1.000 UP dengan harga total Rp 1.000.000, maka Anda harus menambahkan sekitar Rp 7.500 sampai Rp 30.000 untuk komisi manajer investasi.



Dalam dunia reksa dana, komisi untuk manajer investasi ini sering disebut dengan nama "biaya penjualan". Ini karena komisi tersebut harus Anda bayar pada saat Anda membeli UP yang dijual itu.



Selanjutnya, karena reksa dana diatas dialokasikan ke dalam Deposito Berjangka 1 bulan, maka tentunya setelah 1 bulan, akan ada bunga deposito yang didapat, sehingga akibatnya NAB dari UP Anda akan naik. Dalam contoh di atas, kita misalkan bahwa masing-masing deposito akan memberi bunga yang sama (meski kenyataannya akan berbeda-beda), seperti contoh tabel 2.



Menurut contoh tersebut, nilai UP yang tadinya dibeli seharga Rp 1.000, setelah satu bulan telah naik menjadi Rp 1.010. Ini berarti, dalam 1 bulan, si pemilik UP (investor) telah mendapatkan kenaikan NAB sebesar 1% per bulan.



Dalam kenyataannya, perubahan NAB suatu reksa dana sangat bergantung pada instrumen investasi yang dipilih tim pengelola investasi. Apabila mereka memilih instrumen deposito sebagai produk investasinya, maka NAB reksa dananya akan terus naik dan tidak mungkin mengalami penurunan. Ini karena sifat deposito yang pasti memberikan keuntungan berupa bunga, sehingga akan terus menambah nilai aset reksa dana.



Tapi ada juga reksa dana yang khusus berinvestasi ke dalam saham. Saham, tidak seperti deposito, memiliki kemungkinan keuntungan yang tidak pasti sifatnya. Bisa naik, bisa pula turun. Karena itu, nilai UP pada reksa dana saham memiliki kemungkinan untuk naik dan juga untuk turun. UP yang tadinya Anda beli seharga Rp 1.000, misalnya, bisa saja jadi Rp 900 pada satu bulan kemudian karena saham-saham yang dipilih oleh manajer investasi turun nilainya. Di sisi lain, bila nilai saham naik, besar kenaikan tersebut bisa lebih besar daripada deposito. Itulah sebabnya, reksa dana jenis ini disebut dengan nama reksa dana growth income.



Reksa dana lainnya ada yang berinvestasi ke dalam obligasi (surat hutang), dan ada juga yang berinvestasi ke dalam kombinasi dari dua atau lebih instrumen investasi, semisal gabungan saham dan obligasi, atau obligasi dan deposito.



Jadi, sebelum membeli reksa dana, tanyalah pada si penjual reksa dana atau bacalah terlebih dahulu prospektusnya (penjelasannya) sehingga Anda tahu reksa dana jenis apakah yang akan Anda beli. Apakah itu reksa dana yang mengalokasikan investasinya pada saham, obligasi, deposito, atau kombinasi antara dua atau tiga instrumen investasi.



Menjual Kembali Reksa Dana Yang Telah Anda Miliki



Setelah beberapa waktu, Anda bisa menjual kembali UP yang Anda miliki kepada perusahaan reksa dana Anda. Jenis reksa dana di mana Anda bisa menjual kembali UP Anda kepada perusahaan penerbitnya disebut dengan nama Reksa Dana Terbuka (open end mutual fund). Lawan dari Reksa Dana Terbuka adalah Reksa Dana Tertutup (closed end mutual fund). Reksa Dana Tertutup adalah jenis reksa dana di mana Anda tidak bisa menjual UP yang Anda miliki kepada penerbitnya, tapi Anda hanya bisa menjualnya kepada investor yang lain, dan penjualan tersebut harus dilakukan lewat bursa.



Untuk Reksa Dana Terbuka, bila sewaktu-waktu Anda ingin menjual UP Anda, maka Anda bisa menjualnya kembali kepada penerbit reksa dana Anda, dan perusahaan reksa dana dilarang untuk menolak penjualan kembali UP dari nasabahnya. Ini tentunya akan menguntungkan Anda.



Sebaliknya, pada Reksa Dana Tertutup, proses penjualan kembali sering mengalami hambatan karena tidak selalu ada investor yang mau membeli UP Reksa Dana Anda. Jadi dengan kata lain, UP dari Reksa Dana Terbuka lebih likuid dari UP pada Reksa Dana Tertutup.

Sebetulnya apa saja keunggulan reksa dana dibanding jenis investasi lainnya?




Yang pertama, Anda yang belum biasa melakukan investasi akan sangat terbantu karena ada manajer investasi yang akan mengevaluasi investasi Anda setiap harinya. Anda tidak perlu bersusah payah mengevaluasi, karena Anda cukup mendapatkan report-nya setiap bulan atau beberapa bulan sekali.



Yang kedua, Anda bisa melakukan investasi dengan jumlah dana awal yang kecil jumlahnya. Beberapa reksa dana bisa dimulai hanya dengan dana awal Rp 100.000,-. Bayangkan, Anda tentu tidak bisa membuka deposito dengan dana sekecil itu, bukan? Namun dengan reksa dana, dana sejumlah itu sudah bisa untuk melakukan investasi (salah satunya) ke dalam deposito.



Keuntungan ketiga adalah adanya diversifikasi atau penyebaran risiko. Dengan reksa dana, Anda bisa menyebar risiko investasi Anda dengan leluasa. Sebagai contoh, bila dana Anda hanya Rp 1 juta, maka Anda tidak mungkin bisa membuka beberapa deposito secara bersamaan di beberapa bank karena untuk membuka satu deposito saja dibutuhkan dana minimal Rp 500 ribu. Tapi dengan melakukan investasi di reksa dana deposito, maka uang Anda bisa tersebar di berbagai deposito dalam berbagai bank, tanpa Anda harus memiliki dana yang besar.



Keuntungan keempat adalah dari segi perpajakan. Pembelian maupun penjualan kembali UP dari produk reksa dana adalah bebas pajak. Ini dilakukan atas kebijakan pemerintah (Dirjen Pajak), untuk merangsang dunia investasi di Indonesia.



Bisakah Manajer Investasi Dipercaya?



Sebetulnya, kata "manajer" ditujukan bagi orang, bukan perusahaan. Tapi peraturan menyebutkan bahwa kata "Manajer Investasi" ditujukan bagi perusahaan yang mengelola investasi Anda. Orang-orang yang bekerja di dalamnya hanya disebut Wakil Manajer Investasi. Kadang-kadang disebut juga Tim Pengelola Investasi, atau Komite Investasi (Anda bisa melihatnya di prospektus Anda). Dalam bahasa keuangan, orang yang tugasnya mengelola dana investasi seperti ini disebut fund manager.



Tidak sembarang orang bisa menjadi fund manager. Dia harus mendapatkan izin dari Pemerintah (BAPEPAM atau Badan Pembina dan Pengawas Pasar Modal). Untuk mendapatkan izin tersebut, maka seorang calon fund manager harus melalui ujian yang tingkat kesulitannya sangat tinggi. Untuk mengetahui siapa saja fund manager atau anggota Tim Pengelola Investasi Anda, Anda bisa membacanya di prospektus reksa dana Anda.



Bagaimana Kalau Perusahaan Reksa Dananya Bangkrut?



Produk Reksa Dana diterbitkan oleh Perusahaan Reksa Dana, yang sekaligus bertindak sebagai manajer investasi. Karena itu, perusahaan Manajer investasi hidup dari komisi yang diterimanya sewaktu investor membeli UP (Unit Penyertaannya). Besar komisi ini biasanya maksimal sekitar 3% dari nilai UP yang dibeli nasabah. Dari komisi-komisi yang terkumpul inilah perusahaan reksa dana ini "menggaji" dirinya sendiri. Terkadang, komisi juga didapat bila nasabah menjual kembali UP yang mereka miliki.



Mungkin saja terjadi, pendapatan yang diterima manajer investasi dari komisi-komisi tersebut lebih kecil daripada biaya-biaya yang harus dia keluarkan untuk membiayai perusahaannya. Akibatnya, bisa saja manajer investasi (Perusahaan Reksa Dana) ini tidak bisa hidup lebih lama, dan akhirnya bangkrut. Pertanyaannya, apakah harta Reksa Dana yang dibeli para investor ikut hilang?



Jawabannya: tidak. Menurut peraturan, harta Reksa Dana harus disimpan dalam sebuah tempat terpisah, yang disebut dengan nama Bank Kustodian. Bank Kustodian adalah sebuah lembaga/badan yang sudah memiliki izin dari BAPEPAM untuk bisa menyimpan harta dari suatu aset reksa dana. Perusahaan Reksa Dana tidak boleh menyimpan sendiri harta reksa dananya. Dia harus menyimpannya di tempat lain, yaitu pada Bank Kustodian.



Jadi, bila Perusahaan Reksa Dana/Perusahaan Manajer investasi bangkrut, maka harta Reksa Dana yang Anda miliki dijamin tetap aman. Bacalah prospektus reksa dana Anda, di situ akan tertulis Bank Kustodian mana yang dipakai oleh perusahaan reksa dana Anda.



PEMBAGIAN REKSA DANA



Berdasarkan produk investasi yang dipilih oleh manajer investasi, ada 4 macam produk Reksa Dana:



1. Reksa Dana Saham. Ini adalah produk Reksa Dana di mana manajer investasi kebanyakan menginvestasikan uang nasabahnya ke dalam saham. Dari segi potensi keuntungan, Reksa Dana Saham dianggap bisa memberikan potensi keuntungan paling besar. Ini karena sifat saham yang nilainya bisa naik dan bisa juga turun, di mana kenaikannya bisa besar sekali, tapi penurunannya juga bisa besar sekali. Karena itulah, Reksa Dana Saham paling berisiko dibanding ketiga produk Reksa Dana yang lain.

2. Reksa Dana Pendapatan Tetap. Ini adalah produk Reksa Dana di mana manajer investasi kebanyakan menginvestasikan uang nasabahnya ke dalam surat berharga yang memberikan pendapatan tetap, yaitu obligasi. obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan dan dijual kepada masyarakat. Potensi keuntungan yang diberikan Reksa Dana Pendapatan Tetap biasanya dianggap tidak sebesar seperti pada Reksa Dana Saham. Namun demikian, potensi penurunan nilainya biasanya juga tidak besar. Itulah sebabnya, Reksa Dana Pendapatan Tetap risikonya dianggap lebih kecil daripada Reksa Dana Saham.

3. Reksa Dana Campuran. Di sini manajer investasi menginvestasikan uang nasabahnya biasanya secara sama rata ke dalam saham dan obligasi. Untuk risiko, karena Reksa Dana ini merupakan reksa dana yang mencampur saham dan obligasi, maka dianggap lebih besar daripada Reksa Dana Pendapatan Tetap, tapi lebih kecil daripada Reksa Dana Saham.

4. Reksa Dana Pasar Uang. Di sini manajer investasi menginvestasikan uang nasabahnya ke dalam produk-produk Pasar Uang seperti Deposito, SBI, dan Obligasi Jangka Pendek. Pada Reksa Dana ini, potensi keuntungannya jauh lebih kecil dari ketiga reksa dana di atas, namun pasti.

Persiapan Keuangan Jelang Kehamilan

 
 
Anda dan pasangan ngebet punya anak? Ada yang perlu Anda cermati, salah satunya adalah persiapan keuangan. Kehadiran anak tentu akan mengubah kondisi keuangan. 
 
Itu sebabnya, sebelum hamil, Anda berdua perlu meninjau kembali persiapan keuangan secara bersama-sama.

Bagi pasangan yang memperoleh penghasilan ganda atau suami istri bekerja, masing-masing berhak mempertanyakan kepada perusahaan, hak apa yang akan diperleh selama masa kehamilan, saat melahiran dan masa perawatan anak yang rutin seperti imunisasi.

Selenjutnya, Anda bisa menghitung secara rinci persiapan keuangan, yakni
  • Biaya pemeriksaan rutin, mulai dari bidan, dokter umum hingga dokter spesialis kandungan. Termasuk pula berapa kali biasanya calon ibu harus memeriksakan kehamilannya.
  • Biaya melahirkan secara normal (secara bertahap meliputi biaya persalinan di rumah bersalin hingga rumah sakit, serta biaya penolong persalinan mulai dari bidan hingga dokter bersalin)
  • Biaya melahirkan secara caesar, bila persalinan normal tidak mungkin dilakukan (sesuai kelas masing-masing rumah sakit)
  • Biaya-biaya yang dibutuhkan untuk merawat dan kebutuhan bayi

Jika ternyata Anda berdua secara finansial sudah siap, itu berarti Anda berdua sudah selangkah lebih maju.
 

ayahbunda.co.id



Thursday, September 23, 2010

Trik Menghabiskan Gaji Tanpa Rasa Bersalah





dikutip dari Kompas.com, 25 Juli 2010

Setiap orang memiliki cara dalam mengelola keuangan. Prinsipnya, pendapatan rutin bulanan sebisa mungkin memenuhi semua kebutuhan dan menyisakan uang untuk tabungan. Lantas, sudahkah pendapatan Anda disisihkan setiap bulannya untuk tabungan?

Sejumlah peserta workshop perencanaan keuangan bertema "Salary Vs Selera", yang digelar EXPERD, Sabtu (24/7/2010) di Barcode, Kemang, Jakarta, menyatakan kesulitannya dalam mengelola keuangan. Sistem amplop, misalnya, tak menjadi solusi keuangan dan akhirnya penghasilan rutin tak bersisa setiap bulannya.

Perencana keuangan, Ahmad Gozali, menjelaskan, perlu konsistensi untuk menjalani perencanaan keuangan. Khusus untuk sistem amplop, misalnya, dibutuhkan 21 hari untuk mengubah kebiasaan, ditambah sifat jujur dan disiplin untuk menjalankannya.

"Sebenarnya yang perlu diubah lebih dahulu adalah mindset agar bisa mengelola keuangan dengan baik. Jika sebelumnya fokus pada cara menyisakan uang, maka ubah mindset dengan cara yang baik untuk menghabiskan uang dari penghasilan bulanan. Jangan menyisakan uang, tetapi habiskan dengan cara menyenangkan. Karena uang memang untuk dibelanjakan dan gajian untuk dihabiskan," tutur Gozali memaparkan konsepnya dalam mengelola keuangan saat workshop.

Menghabiskan uang gajian ala Gozali ini jangan diartikan perilaku konsumtif yang cenderung mengedepankan keinginan (selera) dan bukannya kebutuhan. Cara mengelola keuangan ini dilakukan dengan empat tahapan prioritas:

1. Kewajiban agama/sosial, 10 persen dari penghasilan
Menurut Gozali, dalam menentukan prioritas, Anda perlu menentukan pengeluaran dengan melihat faktor risiko (tinggi, menengah, rendah) dan fleksibilitasnya. Pengeluaran yang fleksibel bersifat jangka panjang yang masih bisa ditawar, sedangkan lawannya, yakni kebutuhan tidak fleksibel atau tetap (fix), bersifat jangka pendek.

"Kewajiban agama atau sosial, seperti zakat (Muslim), perpuluhan (Nasrani), berada dalam prioritas pertama. Pengeluaran ini sifatnya fix, 2,5 persen untuk zakat, misalnya, ini tak bisa ditawar. Jadi, keluarkan dana zakat saat menerima gajian setiap bulan," ujar Gozali.

2. Cicilan utang, maksimal 35 persen dari penghasilan
Pengeluaran ini sifatnya juga fix dan berisiko tinggi. Oleh karena itu, Anda harus memenuhi kewajiban ini setiap bulan saat awal menerima gajian. Cicilan seperti KPR, kendaraan, kartu kredit, dan lainnya perlu dilunasi sesuai pembelanjaan Anda.

"Bunga semakin tinggi jika kewajiban ini tidak segera dipenuhi. Selain faktor psikologis, bagi orang normal Anda akan mengalami gangguan psikologis jika terlilit banyak utang. Belum lagi konsekuensi legal jika kredit di bank macet," kata Gozali.

3. Kebutuhan masa depan, minimal 10 persen dari penghasilan
Menabung, berinvestasi, dan membeli asuransi adalah sejumlah bentuk kebutuhan masa depan yang harus dialokasikan dari penghasilan bulanan. Kebutuhan ini menjadi penting karena kondisi keuangan selalu dinamis. Apalagi bagi karyawan, di mana ketahanan gaji memungkinkan untuk naik, turun, atau bahkan tak berpenghasilan alias kehilangan pekerjaan (PHK misalnya). Sifat dari pengeluaran ini fix dan berisiko tinggi.

4. Biaya hidup, 40-60 persen dari penghasilan
Jika ketiga kewajiban di atas sudah dipenuhi begitu Anda menerima gaji bulanan, gunakan sisanya untuk memenuhi semua kebutuhan rutin bulanan, seperti sembako, listrik/air, uang sekolah anak, iuran lingkungan/keamanan, termasuk yang terkait hobi seperti membeli buku, menonton film, atau pengeluaran entertainment lainnya (yang sifatnya keinginan).

"Dengan menjalani, Anda takkan kehabisan uang saat awal menerima gaji. Jika pun Anda tergiur membeli barang diskon di mal, Anda sudah menyadari sisa uang Anda (setelah dikeluarkan untuk tiga prioritas teratas) tak akan cukup lagi untuk berbelanja. Karena masalah utama yang dialami banyak orang dengan penghasilannya adalah uang cepat habis terpakai begitu menerima gaji," ungkap Gozali.

Gozali menegaskan prioritas membelanjakan uang adalah membayar utang, lalu dahulukan saving daripada shopping yang keinginannya tak pernah bisa dibatasi.

Sebesar apa pun penghasilan Anda, uang takkan tersisa setiap bulannya jika masih menggunakan pola lama. Jadi, jika Anda sepakat dengan Gozali, habiskan penghasilan rutin Anda dengan membelanjakan sesuai empat prioritas utama. Pastikan sifat konsumtif untuk memenuhi selera ada di urutan paling akhir.

Sunday, May 2, 2010

Menghindari Kesalahan Terbesar Keuangan Perempuan

Kesalahan Keuangan #1
Menganggap gaji tidak cukup untuk ditabung
Menurut Kathy Kristof dalam bukunya Investing 101, semua orang punya sejumlah uang untuk ditabung, kecuali jika Anda hidup di bawah garis kemiskinan.
Solusi
Catat pengeluaran harian ANda selama satu bulan untuk mengetahui ke mana perginya uang Anda. Lalu cari cara untuk membelanjakan kurang dari jumlah tertentu, misalnya engurangi pengeluaran Rp30.000,00 per hari. Sesudah jumlah penghematan mencapai Rp1.000.000,00 masukkan ke dalam rekening tabungan.

Kesalahan Keuangan #2
Punya tujuan finasial tapi tak punya rencana implementasi
Jika Anda ingin menurunkan berat badan 5kg, Anda tidak sekedar mengharap saja, tapi harus menjalan program diet. Begitu juga halnya jika Anda ingin punya tabungan dalam jumlah tertentu di usia 65 tahun. Anda HARUS menjalankan program untuk mewujudkannya.
Solusi
Jika membuat program terlalu rumit untuk Anda, coba minta bantuan dari luar. BIcara dnegan teman atau keluarga yang Anda hormati dan bisa mengelola uang secara baik. Atau bicara dengan seorang perencana keuangan.

Kesalahan Keuangan #3
Menganggap sudah terlalu terlambat untuk mulai menabung
Tak ada kata terlambat untuk menabung, apakah umur Anda 30, 45, atau bahkan 60 tahun.
Menurut Rennie Gabriel dalam buku Wealth on Any Income, satu-satunya waktu terlalu terlambat untuk menabung adalah sesudah meninggal.
Solusi
Jika Anda menabung mulai dari sekarang, Anda akan punya uang jika mendadak perlu uang. Jika ada pengeluaran uang tak terduga, Anda tak perlu meminjam uang, yang berarti terhindar dari berhutang dan membayar bunga.

Kesalahan Keuangan #4
Meminjamkan uang kepada kerabat atau teman
Sering terjadi, kerabat atau teman meminjam, dan tidak bisa membayar hutang mereka.

Solusi

Pinjamkan uang hanya jika Anda siap untuk menuliskannya sebagai hadiah. Anda bisa menetapkan aturan pembayaran, tapi intinya adalah perlu disadari, bahwa sebagian besar uang yang dipinjamkan kepada teman atau keluarga tak bisa dibayar.

Kesalahan Keuangan #5
Belanja berlebihan untuk anak karena merasa bersalah
Sebagian ibu mudah tergoda untuk membelikan barang-barang bagus untuk anaknya. Atau mendaftarkan anak mengikuti aktivitas tertentu. Padahal keinginan anak tak ada habisnya.
Solusi
Jika Anda melakukan hal yang, hentikan dan kaji ulang prioritas Anda. Apakah Anda benar-benar yakin, anak Anda akan menganggap Anda orang tua yang lebih baik karena Anda membelikan banyak mainan untuknya? Apakah Anda ingin memberikan contoh tanggungjawab keuangan seperti ini kepada anak Anda? Sebelum mengatakan YA untuk setiap permintaan anak Anda, coba lakukan hal ini: luangkan waktu untuk menemani anak Anda ketimbang uang. Kasih sayang yang Anda berikan kepadanya jauh lebih berharga dari sepatu olahraga yang mahal.

Kesalahan Keuangan #6
Hanya membayar tagihan minimum untuk kartu kredit
Jika Anda membayar tagihan minimum Rp200.000,00 untuk tagihan kartu kredit sebesar Rp2.000.000,00 dengan bunga 3,25% per bulan, artinya dalam setahun bunga yang Anda bayarkan sebesar 39%. Hampir separuh dari hutang Anda sebenarnya.
Solusi
Selalu bayar lunas hutang kartu kredit Anda. Atau usahakan selalu membayar lebih besar daripada limit pembayaran minimum. Dan JANGAN gunakan kartu kredit ANda untuk hal yang tidak penting.

Kesalahan Keuangan #7
Berhutang dengan kartu kredit
Adanya kartu kredit membuat banyak orang yang hidup lebih besar pasak darpda tiang. Atau membeli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dengan berhutang pada kartu kredit
Solusi
Kali berikut Anda ingin membeli sesuatu dengan kartu kredit, tanyakan kembali pada diri Anda apakah Anda benar-benar membutuhkan hal tersebut? Atau EGO Anda yang membutuh benda tersebut?

Kesalahan Keuangan #8
Belanja untuk menyenangkan hati
Menurut survei yang dilakukan oleh myvesta.org 17% responden menggunakan uang untuk meningkatkan self-esteem, 16% belanja untuk meredakan stress, dan 40% merasa perasaannya berubah sesudah belanja.
Solusi
Temukan hal lain untuk meredakan stress. Cari aktivitas pengganti, misalnya bermain dengan anak Anda. Meningkatkan frekuensi berolahraga, atau berkumpul dengan teman.

sumber: Aura XII/27 dimodifikasi oleh Dea Haryono

Sunday, January 31, 2010

Memanage keuangan keluarga

Bismillah...

Beberapa hari ini saya di pusingkan dengan beberapa pengeluaran tak terduga yang direncana *D'oh artinya apa tuh... siap-siap kantong kering deh*
Selalunya ada saja, padahal pertama datang dan masuk ke sebuah mall ( ato toko apa ja ) niatnya cuma beli one thing, loh kok jadi things things lain yang terkumpul.... alamaaaaaaaaaak...

Pernah kepikiran ga, gimana nantinya ketika income anda adalah Rp. 0; alias bergantung sama misua huheuee (lebay) Apa cukup untuk menutup kebutuhan hidup, secara hari gini semua serba pake duit, dan serba selangit harganya. *ZZzzzzzzzzzz*

Barusan ada temen curhat tentang finansial keluarga barunya.. Selamat menempuh hidup baru ya jeng... semoga samara dan barakah (udah 3 bulan lalu seh merriednya heheeh )
Kembali ke topik, Dia ngeluh gini.. "ga tau deh gimana nanti kalo udah punya anak, kalo sekarang aja ga bisa ngatur keuangan dengan benar."

"maksudnya?" kataku
"Sekarang aja masih seatap dan seperiuk sama ortu di akhir bulan udah ga ada sisa gimana nanti kalo udah rumah sendiri plus udah punya anak?"

Hai hai, problema romantika hidup berumahtangga, dimulai dari sini kek na ya... masa hanimun udah kelar sekarang ganti masa mikir "butoh"( baca: kebutuhan)

Ok, pertanyaannya... Berapa orang yang bekerja dalam rumah tangga anda? apakah suami saja ato kedua-duanya?
berapapun ga usah dijawab ya, sekarang anda jumlahkan income, pendapatan ato gaji ato whateverlah namanya...
yuuk belajar matematikanya mulai heueuhee....
pernah seorang pakar ekonomi mengatakan pada saya untuk selalu menerapkan sistem ; 30;30;30;10


30% pertama Kebutuhan papan
30% kedua kebutuhan tranport kalo misal mo cari cicilan angkot juga buleh hahaha
30% ketiga kebutuhan pangan
*catatan ga harus urut seh ^^,)
dan yang 10% jangan lupa sebagai dana cadangan ato tabungan itu wajib ya....



Pusing juga ya... sama diriku juga bingung...





-------